Langsung ke konten utama

 

MAKALAH

 

“UPAYA PENCEGAHAN BAHAYA RADIASI”

DOSEN PENGAMPU: NS. DEWI SETYAWATI, MNS

 

 

KELOMPOK 3

 

Ahmad Irfankhan Hamim Sutopo              : G2A220094

Dedy Fikriyansyah                                        : G2A220089

Henri Prabowo                                              : G2A220084

Kotitin                                                            : G2A220080

Robia’tul Adawiya                                          : G2A220073

 

 

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN DAN KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH

SEMARANG

2020

 

KATA PENGANTAR

 

Segala puji dan syukur kehadirat Allah SWT, karena dengan anugrah dan kasih sayang serta Rahmat-Nya sehingga kita semua diberikan Nikmat Sehat, Iman Islam dan Waktu Luang, sehingga kami bisa menulis Makalah ini dengan judul “Upaya Penceggahan Bahaya Radiasi”. Para penulis dan penyusun makalah ini adalah mahasiswa Lintas Jalur Kuwait Kelas C yang berada di bebearapa Negara, seperti Jepang dan Midle East. Makalah ini ditulis sebagai salah satu dari mata kuliah K3 kelas C Lintas Jalur Universitas Muhamadiya Semarang

Adapu makalh ini berfokus pada tugas yang di berikan dosen pad mata kuliah K3. Kami sangat berharap makala ini bisa bermanfaat dan bisa digunakan oleh pihak-pihak terkait seperti mahasiswa dan perawat khususnya dalam bidang K3 di Indonesia atau di Luar Negeri. Kami penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna, dengan demikian dari para pembaca makalah ini bisa memaklumi dari isi makalah ini.

Semoga makalah ini dapat di pahami oleh siapapun yang membacany, kami memohon maaf jiaka masih terdapat kesalahan dalam penulisan makalah ini, yang penulisanya masih jauh dari kata sempurna.

 

 

 

Arab Saudi/Jepang

 28 Oktober 2020

 

     Kelompok 3

1

DAFTAR ISI

 

HALAMAN JUDUL

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB I : PENDAHULUAN

            A. Latar Belakang

            B. Tujuan Penulisan

            C. Ruang Lingkup Penulisan

BAB II : TINJAUAN TEORI

A.    Defiisi

1.      Pengertian Radiasi

2.      Berdasarkan Sumber Radiasi Secara Garis Besar

a.       Radiasi Alami

1)      Radiasi Benda-benda Langit

2)      Radiasi dari Kerak Bumi

b.      Radiasi Buatan

1)      Radiasi dari Tindakan Medic

2)      Radiasi dari Reactor Nuklir

3.      Jenis radiasi

4.      Secara Garis Besar Radiasi di Golongkan

a.       Radiasi Ionisasi

1)      Radiasi Eksterna

2)      Radiasi Interna

b.      Radiasi Non-Ionisasi

1)      Radiasi Neutron

2)      Radiasi Elektomagnetik

2

3)      Radiasi Cahaya

4)      Radiasi Termal

5.      Manfaat radiasi Dalam Medis

a.       Pemanfaatan Sumber Radiasi Dalam Medis

b.      Pemanfaatan Radiasi Bidang Radioterapi

6.      Bahaya Radiasi atau Efek radiasi

            B. Tujuan

            C. Prosedur Tindakan

BAB III : PENUTUP

            A. Kesimpulan

            B. Saran

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.      Latar Belakang

Setiap tempat kerja selalu mempunyai risiko kemungkinan terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja. Perawat merupakan salah satu tenaga medis yang memberikan pelayanan kesehatan. Kesehatan dan keselamatan perawat perlu mendapatkan perhatian lebih dibandingkan komponen pelayanan kesehatan lainnya karena tiap harinya perawat bertemu langsung dengan pasien dan bahaya-bahaya yang ada dirumah sakit.

 

Kecelakaan kerja yang tinggi di setiap bidang pekerjaan disebabkan oleh multifaktor. Salah satu penyebab kecelakaan kerja yaitu tidak diterapkannya analisa potensi bahaya dan penilaian risiko terhadap bahaya-bahaya yang ada sehingga tidak terdapat pencegahan yang memadai terhadap bahaya yang kemungkinan dapat terjadi di perusahaan (Dualembang, 2017).

 

Pelaksanaan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) adalah salah satu bentuk upaya untuk menciptakan tempat kerja yang aman, sehat, bebas dari pencemaran lingkungan, sehingga dapat mengurangi dan atau bebas dari kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang pada akhirnya dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja.

Sebagai upaya pengendalian risiko kecelakaan dan penyakit akibat kerja, perlu dilakukan identifikasi sumber bahaya yang ada di tempat kerja. Pengendalian risiko dilakukan pada seluruh bahaya yang ditemukan dalam proses identifikasi bahaya dan mempertimbangkan peringkat risiko untuk menentukan prioritas. (Dankis, 2015).

 

4

Rumah sakit merupakan institusi pelayanan kesehatan yang kompleks, padat profesi dan padat modal. Pelayanan rumah sakit menyangkut berbagai fungsi pelayanan, pendidikan, penelitian dan juga mencakup berbagai tindakan maupun disiplin medis. Rumah Sakit adalah tempat kerja yang memiliki potensi terhadap terjadinya kecelakaan kerja. Bahan mudah terbakar, gas medik, radiasi pengion, dan bahan kimia merupakan potensi bahaya yang memiliki risiko kecelakaan kerja. Oleh karena itu, Rumah Sakit membutuhkan perhatian khusus terhadap keselamatan dan kesehatan pasien, staf dan umum (Sadaghiani, 2001 dalam Omrani dkk., 2015).

 

Keselamatan dan kesehatan kerja bertujuan melindungi pekerja atas keselamatannya agar dapat meningkatkan produktifitas nasional. Menjamin semua pekerja yang berada di tempat kerja menggunakan serta merawat sumber produksi secara aman dan efisien (MENKES, 2009).

 

Identifikasi bahaya merupakan langkah awal dalam mengembangkan manajemen risiko K3. Mengidentifikasi suatu bahaya adalah upaya sistematis untuk mengetahui potensi bahaya yang ada di lingkungan kerja. Dengan mengetahui sifat dan karakteristik bahaya, maka dapat lebih berhati-hati dan waspada untuk melakukan langkah-langkah pengamanan agar agar tidak terjadi kecelakaan, namun tidak semua bahaya dapat dapat dikenali dengan mudah (Ramli, 2009).

 

Tingginya penggunaan radiasi untuk kegiatan medis merupakan kontribusi kedua terbesar sumber radiasi yang kita terima, dimana selain memberikan manfaat , juga dapat menyebabkan bahaya baik bagi pekerja radiasi, masyarakat, maupun lingkungan sekitar. Sehingga pelayanan radiologi harus memperhatikan aspek keselamatan kerja radiasi menurut Peraturan Kepala BAPETEN No.8 Tahun 2011.

 

5

Risiko bahaya yang mungkin terjadi pada pekerja radiasi yaitu efek deterministik dan efek stokastik. Pengaruh sinar X dapat menyebabkan kerusakan haemopoetik (kelainan darah) seperti: anemia, leukimia, dan leukopeni yaitu menurunnya jumlah leukosit (dibawah normal atau < 6.000 m3). Pada manusia dewasa, leukosit dapat dijumpai sekitar 7.000 sel per microliter darah (Mayerni dkk, 2013).

 

B.       Tujuan Penulisan

Adapun tujua dari penulisan kami, yang mengangkat masalah upaya pencegahan bahaya radiasi adalah, untuk mengetahui definisi dari hazard dari beberapa sudut pandang para ahli dan mengetahui peran perawat dalam mencegah terjadinya hazard di rumah sakit untuk memperluas pengetahuan para pembaca terutama bagi perawat dan mahasiswa keperawatan.

 

Untuk mengetahui bahaya dan efek dari bahaya radiasi itu sendiri. Sebagaiman kita perawat yang bekerja di berbagai bidang kesehatan seperti Radiologi, Dental, CT Scan, Infra Mera, Laser dll.

Yang mana keseluruhan yang tersebut, menimbulkan bahaya bagi kesehatan kita. Dengan adanya penulisan dan penyusunan makalah ini bisa meminimalisir dan memproteksi diri kita dari setiap kesalahan tindakan yang akan, sedang atau sudah kita kalukan.

 

C.      Ruang Lingkup Penulisan

Keselamat kerja K3 dari bahaya dan efek radiasi dalam bidang radiologi tidak dapat dihindari. Ahli radiologi perlu berhati-hati terhadap bahaya dan efek radiasi, mengetahui batasan dosis radiasi yang aman, cara meminimalkan paparan radiasi, dosis terkecil untuk visualisasi pencitraan yang baik.

 

6

 Keselamatan pasien dan petugas medis perlu mendapat perhatian khusus.

 Proteksi radiasi penting untuk pasien, staf, serta ahli radiologi sendiri dengan cara menaati indikasi pemeriksaan yang tepat, jumlah pemeriksaan seminimal mungkin, dan sedapat mungkin memilih modalitas pencitraan yang tidak memerlukan radiasi.

 

Keselamatan (safety) telah menjadi isu global termasuk juga untuk rumah sakit. Ada 5 (lima) isu penting yang terkait dengan keselamatan (safety) di rumah sakit yaitu: keselamatan pasien (patient safety), keselamatan pekerja atau petugas kesehatan, keselamatan bangunan dan peralatan dirumah sakit yang bisa berdampak terhadap keselamatan pasien dan petugas, keselamatan lingkungan (green productivity). (Depkes RI, 2006).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

7

BAB II

TINJAUAN TEORI

A.    Definisi

Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) merupakan suatu usaha untuk menciptakan perlindungan dan keamanan dari berbagai resiko kecelakaan dan bahaya baik fisik, mental maupun emosional terhadap pekerja, perusahaan, masyarakat dan lingkungan.

 

Rumah sakit merupakan tempat kerja yang memiliki risiko tinggi terhadap keselamatan dan kesehatan sumber daya manusia rumah sakit, pasien, pendamping pasien, pengunjung, maupun lingkungan rumah sakit.

 

Undang-undang No.44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit pasal 7 ayat 1, bahwa "Rumah Sakit harus memenuhi persyaratan lokasi, bangunan, prasarana, sumber daya manusia, kefarmasian, dan peralatan", persyaratan-persyaratan tersebut salah satunya harus memenuhi unsur Keselamatan dan Kesehatan Kerja di dalamnya. Rumah Sakit yang tidak memenuhi persyaratan- persyaratan tersebut tidak diberikan izin mendirikan, dicabut atau tidak diperpanjang izin operasional Rumah Sakit (pasal 17) (MENKES RI, 2009).

 

1.      Pengertian Radiasi

Radiasi adalah emisi dan penyebaran energi melalui ruang (media) dalam bentuk gelombang elektromagnetik atau partikel-partikel atau elementer dengan kinetik yang sangat tinggi yang dilepaskan dari bahan atau alat radiasi yang digunakan oleh instalasi di rumah sakit

 

8

 

Radiasi adalah pancaran energi melalui suatu materi atau ruang dalam bentuk panas, partikel atau gelombang elektromagnetik/cahaya (foton) dari sumber radiasi. Ada beberapa sumber radiasi yang kita kenal di sekitar kehidupan kita, contohnya adalah televisi, lampu penerangan, alat pemanas makanan (microwave oven), komputer, dan lain-lain.Radiasi dalam bentuk gelombang elektromagnetik atau disebut juga dengan foton adalah jenis radiasi yang tidak mempunyai massa dan muatan listrik. Misalnya adalah gamma dan sinar-X, dan juga termasuk radiasi tampak seperti sinar lampu, sinar matahari, gelombang microwave, radar dan handphone.

 

Radiasi dapat diartikan sebagai energi yang dipancarkan dalam bentuk partikel atau gelombang. Pengertian tentang radiasi dan gelombang dapat dijelaskan pada kejadian berikut. Apa yang anda lakukan bila anda melihat kolam air tenang yang pada permukaannya mengapung beberapa helai daun..?? Secara spontan mungkin anda akan melempar kerikil ke kolam tersebut.

 

Dapat anda lihat bahwa pada lokasi jatuhnya kerikil akan muncul riak, yang kemudian akan menyebar dalam bentuk lingkaran. Riak-riak tersebut ialah gelombang dan memperlihatkan pergerakan energi yang diberikan oleh kerikil dan energi tersebut menyebar dari lokasi jaruhnya kerikil ke segala arah. Ketika riak mencapai daun, daun tersebut akan terangkat naik ke puncak gelombang.

 

Radiasi dapat didefinisikan sebagai proses dimana energi dilepaskan oleh atom-atom. Radiasi ini biasanya diklasifikasikan menjadi dua kelompok yakni Radiasi korpuskuler (corpuscular radiation), adalah suatu pancaran atau aliran dari atom-atom dan atau partikel-partikel sub-

 

9

atom, yang mempunyai kemampuan untuk memindahkan energi

geraknya atau energi kinetiknya (kinetic energy) ke bahan-bahan yang mereka tumbuk/bentuk. Radiasi Elektromagnetis adalah suatu pancaran gelombang (gangguan medan elektris dan magnetis) yang bisa menyebabkan perubahan struktur dalam atom dari bahan-bahan yang dilaluinya (medium).

 

Radiasi adalah energi yang dihantarkan, dipancarkan dan diserap dalam bentuk partikel atau gelombang.

 

2.      Berdasarkan Sumbernya Radiasi Secara Garis Besar Dapat Dibedakan Menjadi :

a.      Radiasi alam

Radiasi alam berasal dari sinar kosmos, sinar gamma dari kulit bumi, peluruhan radom dan thorium di udara, serta radionuklida yang ada dalam bahan makanan. Berikut sumber radiasi dari alam :

 

1)      Radiasi Benda-benda Langit

Karena medan magnet bumi mempengaruhi radiasi ini, maka orang di kutub menerima lebih banyak daripada yang ada di katulistiwa. Selain itu orang yang berada di lokasi yang lebih tinggi akan menerima radiasi yang lebih besar karena semakin tipis lapisan udara yang dapat bertindak sebagai penahan radiasi. Jadi, orang yang berada di puncak gunung akan menerima radiasi yang lebih banyak daripada yang di permukaan laut. Begitupula orang yang bepergian dengan pesawat terbang juga menerima lebih banyak radiasi.

 

10

 

2)      Radiasi Dari Kerak Bumi

Bahan radioaktif utama yang ada dalam kerak bumi adalah Kalium-40, Rubidium-87, unsur turunan dari Uranium-238 dan turunan Thorium-232. Besarnya radiasi dari kerak bumi ini berbeda-beda karena konsentrasi unsur-unsur di tiap lokasi berbeda, tetapi biasanya tidak terlalu berbeda jauh. Penelitian di Perancis, Jerman, Italia, Jepang dan Amerika Serikat menunjukkan bahwa kira-kira 95 persen populasi manusia tinggal di daerah dengan tingkat radiasi rerata dari bumi antara 0,3–0,6 milisievert (mSv ) per tahun. Sekitar 3 persen populasi dunia menerima dosis 1 mSv per tahun atau lebih.

 

b.      Radiasi Buatan

Radiasi buatan adalah radiasi yang timbul karena atau berhunbungan dengan aktivitas manusia, seperti penyinaran dengan sinar-X di bidang medis (radiodiagnostik dan radioterapi), radiasi diperoleh di pembangkit tenaga nuklir, radiasi yang diperoleh di bidang industri dll. Berikut sumber radiasi dari buatan :

1)      Radiasi Dari Tindakan Medic

Dalam bidang kedokteran radiasi digunakan sebagai alat pemeriksaan (diagnosis) maupun penyembuhan (terapi). Pemindai sinar-X atau Roentgen merupakan alat diagnosis yang paling banyak dikenal dan dosis radiasi yang diterima dari roentgen ini merupakan dosis tunggal (sekaligus) terbesar yang diterima dari radiasi buatan manusia. Tindakan medik ini menyumbang 96% paparan rata-rata radiasi buatan pada manusia sehingga jumlah dan jenis sinar-X yang diterima harus dibatasi. Mesin pemindai sinar-X, mammografi dan CT (Computerized Axial Tomography) Scanner meningkatkan dosis radiasi buatan pada manusia.

11

Untuk kepentingan tindakan medik yang menggunakan cobalt-60, dinding kamar tempat penggunaan zat radioaktif jenis ini harus memiliki ketebalan khusus.Dalam sekali penyinaran sinar-X ke dada, seseorang dapat menerima dosis radiasi total sejumlah 35-90 hari jumlah radiasi yang diterima dari alam. Penyinaran sinar-X untuk pemeriksaan gigi memberikan dosis total kira-kira 3 hari jumlah radiasi yang diterima dari alam. Penyinaran radiasi untuk penyembuhan kanker nilai dosisnya kira-kira ribuan kali dari yang diterima dari alam. Meskipun dosis radiasi yang diterima dari kedokteran ini cukup tinggi, orang masih mau menerimanya karena nilai manfaatnya jauh lebih besar daripada resikonya.

2)      Radiasi Dari Reaktor Nuklir

Banyak orang beranggapan rbahwa tinggal di sekitar pembangkit listrik tenaga nuklir akan menyebabkan terkena radiasi yang tinggi. Meskipun di dalam reaktor terdapat banyak sekali unsur radioaktif, tetapi sistem keselamatan reaktor membuat jumlah lepasan radiasi ke lingkungan sangat kecil. Dalam kondisi normal, seseorang yang tinggal di radius 1-6 km dari reaktor menerima radiasi tambahan tak lebih daripada 0,005 milisievert per tahun. Nilai ini jauh lebih kecil daripada yang diterima dari alam (kira-kira 2 milisievert per tahun) atau 1/400 nilai radiasi dari alam.

 

3.      Jenis Radiasi

Radiasi terdiri dari beberapa jenis dan setiap jenis radiasi tersebut memiliki panjang gelombang masing-masing. Ditinjau dari "massanya" radiasi dapat dibagi menjadi radiasi elektromagnetik dan radiasi partikel. Radiasi elektromagnetik ialah radiasi yang tidak

12

 memiliki massa.

Radiasi ini terdiri dari gelombang radio, gelombang mikro, inframerah, cahaya tampak, sinar-X, sinar gamma dan sinar kosmik. Radiasi partikel ialah radiasi berupa partikel yang memiliki massa, misalnya partikel beta, alfa dan neutron.

Bila ditinjau dari “muatan listriknya” radiasi dapat dibagi menjadi radiasi pengion dan radiasi non-pengion. Radiasi pengion ialah radiasi yang apabila menumbuk atau menabrak sesuatu akan muncul partikel bermuatan listrik yang disebut ion. Peristiwa terjadinya ion ini disebut ionisasi, Ion ini kemudian akan menimbulkan efek atau pengaruh pada bahan, termasuk benda hidup.

Radiasi pengion disebut juga radiasi atom atau radiasi nuklir. Termasuk ke dalam radiasi pengion ialah sinar-X, sinar gamma, sinar kosmik, serta partikel beta, alfa dan neutron. Partikel beta, alfa dan neutron dapat menimbulkan ionisasi secara langsung.

Meskipun tidak memiliki massa dan muatan listrik, sinar-X, sinar gamma dan sinar kosmik juga termasuk ke dalam radiasi pengion karena dapat menimbulkan ionisasi secara tidak langsung. Radiasi non-pengion ialah radiasi yang tidak dapat menimbulkan ionisasi. Termasuk ke dalam radiasi non-pengion ialah gelombang radio, gelombang mikro, inframerah, cahaya tampak dan ultraviolet.

 

4.      Secara Garis Besar Radiasi Digolongkan Antara Lain

a.      Radiasi Ionisasi

Beberapa jenis radiasi memiliki energi yang cukup untuk mengionisasipartikel. Secara umum, hal ini melibatkan sebuah elektron yang ‘terlempar’ dari cangkang atom elektron, yang akan

 

13

memberikan muatan (positif).

 Hal ini sering mengganggu dalam sistem biologi, dan dapat menyebabkan mutasi dan kanker.

 

Jenis radiasi umumnya terjadi di limbah radioaktif peluruhan radioaktif dan sampah.Tiga jenis utama radiasi ditemukan oleh Ernest Rutherford, Alfa, Beta, dan sinar gamma. Radiasi tersebut ditemukan melalui percobaan sederhana, Rutherford menggunakan sumber radioaktif dan menemukan bahwa sinar menghasilkan memukul tiga daerah yang berbeda. Salah satu dari mereka menjadi positif, salah satu dari mereka bersikap netral, dan salah satu dari mereka yang negatif. Dengan data ini, Rutherford menyimpulkan radiasi yang terdiri dari tiga sinar. Beliau memberi nama yang diambil dari tiga huruf pertama dari abjad Yunani yaitu alfa, beta, dan gamma.

Radiasi pengion dapat dibagi menjadi dua bagian menurut jenisnya :

1)      Radiasi Eksterna

Adalah sumber radiasi yang terletak diluar tubuh pasien atau pasien mendapat pajanan radiasi dari luar tubuhnya yang dapat mengenai seluruh tubuh (penyinaran total) ataupun mengenai sebagian tubuh saja (penyinaran parsial). Radiasi eksterna ada yang dimanfaatkan untuk keperluan diagnosa biasanya digunakan sumber radiasi sinar-X yang dibangkitkan pada tegangan 40 kV-150 kV, sedangkan untuk keperluan terapi selain digunakan sinar gamma dari radioisotope Cobalt dan Cessium.

 

 

14

2)      Radiasi Interna

Adalah sumber radiasi yang dimasukkan ke dalam tubuh pasien. Sumber radiasi yang diperlukan adalah radioisotope non toksik yang mempunyai waktu paruh pendek dan aktivitas rendah, misalnya Tc 99 atau I-131. Radiasi interna kebanyakan untuk keperluan diagnosa.

 

b.      Radiasi Non-Ionisasi

Radiasi non-ionisasi, sebaliknya, mengacu pada jenis radiasi yang tidak membawa energi yang cukup perfoton untuk mengionisasi atom atau molekul. Ini terutama mengacu pada bentuk energi yang lebih rendah dari radiasi elektromagnetik (yaitu, gelombang radio, gelombang mikro, radiasi terahertz, cahaya inframerah, dan cahaya yang tampak). Dampak dari bentuk radiasi pada jaringan hidup hanya baru-baru ini telah dipelajari. Alih-alih membentuk ion berenergi ketika melewati materi, radiasi elektromagnetik memiliki energi yang cukup hanya untuk mengubah rotasi, getaran atau elektronik konfigurasi valensi molekul dan atom. Namun demikian, efek biologis yang berbeda diamati untuk berbagai jenis radiasi non-ionisasi.

 

1)      Radiasi Neutron

Radiasi Neutron adalah jenis radiasi non-ion yang terdiri dari neutron bebas. Neutron ini bisa mengeluarkan selama baik spontan atau induksi fisi nuklir, proses fusi nuklir, atau dari reaksi nuklir lainnya. Ia tidak mengionisasi atom dengan cara yang sama bahwa partikel bermuatan seperti proton dan elektron tidak (menarik elektron), karena neutron tidak

15

 memiliki muatan. Namun, neutron mudah bereaksi dengan inti

 atom dari berbagai elemen, membuat isotop yang tidak stabil dan karena itu mendorong radioaktivitas dalam materi yang sebelumnya non-radioaktif. Proses ini dikenal sebagai aktivasi neutron.

2)      Radiasi Elektromagnetik

 

Radiasielektromagnetik mengambil bentuk gelombang yangmenyebar dalam udara kosong atau dalam materi. Radiasi EM memiliki komponen medan listrik dan magnetik yang berosilasi pada fase saling tegak lurus dan ke arah propagasi energi.

 

Radiasi elektromagnetik di klasifikasikan ke dalam jenis menurut frekuensi gelombang, jenis ini termasuk (dalam rangka peningkatan frekuensi):gelombang radio,gelombangmikro,radiasi terahertz, radiasi inframerah, cahaya yang terlihat, radiasi ultraviolet,sinar-Xdansinar gamma. Dari jumlah tersebut,gelombang radiomemiliki panjang gelombang terpanjang dan sinar gamma memiliki gelombang terpendek. Sebuah jendela kecil frekuensi, yang disebut spektrum yang dapat dilihat atau cahaya, yang dilihat dengan mata berbagai organisme, dengan variasi batas spektrum sempit ini. EM radiasi membawa energi dan momentum, yang dapat disampaikan ketika berinteraksi dengan materi.

 

 

16

Radiasielektromagnetik mengambil bentuk gelombang yangmenyebar dalam udara kosong atau dalam materi. Radiasi

EM memiliki komponen medan listrik dan magnetik yang berosilasi pada fase saling tegak lurus dan ke arah propagasi energi.

Radiasi elektromagnetik di klasifikasikan ke dalam jenis menurut frekuensi gelombang, jenis ini termasuk (dalam rangka peningkatan frekuensi):gelombang radio,gelombangmikro,radiasi terahertz, radiasi inframerah, cahaya yang terlihat, radiasi ultraviolet,sinar-Xdansinar gamma. Dari jumlah tersebut,gelombang radiomemiliki panjang gelombang terpanjang dan sinar gamma memiliki gelombang terpendek. Sebuah jendela kecil frekuensi, yang disebut spektrum yang dapat dilihat atau cahaya, yang dilihat dengan mata berbagai organisme, dengan variasi batas spektrum sempit ini. EM radiasi membawa energi dan momentum, yang dapat disampaikan ketika berinteraksi dengan materi.

 

3)      Cahaya

Cahaya adalah radiasi elektromagnetik dari panjang gelombang yang terlihat oleh mata manusia (sekitar 400-700 nm), atau sampai 380-750 nm. Lebih luas lagi, fisikawan menganggap cahaya sebagai radiasi elektromagnetik dari semua panjanggelombang, baik yang terliha tmaupun tidak.

 

4)      Radiasi Termal

Radiasi termal adalah proses dimana permukaan benda

 

17

 memancarkan energi panas dalam bentuk gelombang

 elektromagnetik. radiasi infra merah dari radiator rumah tangga biasa atau pemanas listrik adalah contoh radiasi termal, sepertipanas dan cahaya yang dikeluarkan oleh sebuah bola lampu pijar bercahaya.

 

Radiasi termal dihasilkan ketika panas dari pergerakan partikel bermuatan dalam atom diubah menjadi radiasi elektromagnetik. Gelombang frekuensi yang dipancarkan dari radiasi termal adalah distribusi probabilitas tergantung hanya pada suhu, dan untuk benda hitam asli yang diberikan oleh hukum radiasi Planck. hukum Wien memberikan frekuensi paling mungkin dari radiasi yang dipancarkan, dan hukum Stefan-Boltzmannmemberikan intensitas panas.

 

5.      Manfaat Radiasi Dalam Medis

a)      Pemanfaatan Sumber Radiasi dalam Medis

Pemanfaatan sumber radiasi pengion di bidang kesehatan dari waktu ke waktu mengalami peningkatan, baik dari segi jumlah maupun jenis penggunaannya. Hal tersebut menunjukkan adanya pengakuan yang baik dan indikasi kebutuhan terhadap manfaat dari sumber radiasi pengion bagi kesehatan seseorang. Selain sisi manfaat dari penggunaan sumber radiasi pengion juga memberikan potensi risiko radiasi bagi pekerja atau personil, pasien dan anggota masyarakat. Semakin besar pemanfaatan maka semakin besar pula potensi risiko yang akan diterimanya. Apalagi ditunjang dengan meningkatnya ketergantungan seseorang akan teknologi kedokteran dan vonis dokter dalam hal menentukan kondisi kesehatan.

 

18

Secara garis besar, pemanfaatan sumber radiasi pengion di bidang kesehatan dibagi menjadi beberapa bagian yaitu: radiologi diagnostik,

 radiologi intervensional, radioterapi, dan kedokteran nuklir. Paparan radiasi pada individu (pasien) yang menjalani pemeriksaan dengan sumber radiasi pengion selain memiliki manfaat dari radiasi yang diterimanya juga berpotensi terhadap risiko radiasi yang memicu munculnya efek deterministik maupun efek stokastik dan dapat menaikkan komplikasi penyakit yang diderita oleh pasien. Selain paparan radiasi pada pasien, pelaksana kegiatan seperti staf atau personil yang terlibat, pendamping pasien, keluarga dekat (pada tindakan kedokteran nuklir), petugas magang, dan sukarelawan dalam penelitian biomedik juga memiliki potensi terpapar radiasi karena hamburan dari pasien.

 

b)      Pemanfaatan Radiasi Bidang Radioterapi

Radiasi yang digunakan dalam pemeriksaan kesehatan (radiodiagnosis) dan pengobatan (radioterapi) pertama kali ditemukan oleh Prof. WC. Roentgen pada bulan Nopember 1895. Radiasi ini berasal dari sinar X, yang karena sifat-sifatnya mampu menembus jaringan tubuh manusia untuk mendeteksi kelainan dan menimbulkan efek biologi menghentikan pertumbuhan sel hingga mematikan sel. Oleh karena itu dapat dimanfaatkan untuk mematikan sel-sel kanker, dan sudah barang tentu dalam dosis yang sesuai dengan keperluan.

Dengan perkembangan ilmu dan teknologi bidang fisika radiasi memungkinkan pengukuran jumlah (dosis) radiasi yang diserap tubuh dan arah radiasi dengan tepat sasaran, bidang biologi radiasi (radiobiologi) yang memungkinkan tatacara pemberian dan jumlah dosis yang efektif, bidang onkologi (ilmu tentang kanker) yang memungkinkan penentuan jenis dan stadium kanker serta pemilihan

19

jenis pengobatan yang sesuai (operasi, radioterapi, khemoterapi/obat-obatan, atau kombinasinya). Penentuan radioterapi didasarkan pada hispatologi dan asal tumor, stadium/tingkat penyebarannya, kondisi kesehatan pasien, ketersediaan sarana dan prasarana.

Di bidang kedokteran, radioisotop banyak digunakan sebagai alat diagnosis dan alat terapi berbagai macam penyakit.

 

6.      Bahaya Radiasi Atau Efek Radiasi

a)      Efek biologis radiasi pada manusia dapat terjadi pada individu yang terkena radiasi tersebut (efek somatik) ataupun  keturunannnya  (efek herediter/genetik). Efek somatik dibagi menjadi efek deterministik dan efek stokastik, sedangkan efek genetik semuanya bersifat stokastik.

b)      Efek deterministik dapat berupa kerusakan kulit, kerusakan sistem hematopoietik sumsum tulang, dan lensa mata serta sindrom radiasi. Terdapat hubungan jelas antara derajat keparahan penyakit dan dosis, sehingga dapat diatur dosis radiasi yang aman dari efek deterministik ini.

c)      Efek stokastik dapat terjadi meskipun dalam batas radiasi yang telah direkomendasikan. Efek stokastik ditentukan oleh efek probabilitas; dosis radiasi minimal pun memiliki efek stokastik dalam meningkatkan potensi tumor dan kerusakan genetik. Oleh sebab itu, tidak ada nilai ambang sejati yang dapat menjamin pajanan sinar X benar–benar aman. Efek ini fundamental berkaitan dengan penggunaan semua radiasi ionisasi dalam radiologi diagnostik dan menjadi alasan utama proteksi umum terhadap radiasi. Salah satu contoh efek stokastik yang berbahaya adalah kanker dan kelainan genetik.

20

d)      Beberapa penelitian mempelajari efek radiasi khususnya dampak radiasi terhadap kanker (efek stokastik). Studi korban bom atom, yaitu dalam kelompok studi Life Span Study (LSS) menunjukkan risiko kanker tertinggi pada kanker ginjal, panggul, dan ureter, kemudian kanker payudara (perempuan), sistem pencernaan, kandung kemih, ovarium (perempuan), paru, usus besar, kerongkongan, kandung empedu, hati dan perut. Studi Richardson, et al, membuktikan hubungan kuat antara radiasi dan kejadian leukemia; relative risk mortalitas leukemia akibat radiasi adalah 2,96 per Gy, menunjukkan dampak radiasi terhadap  kelainan  hematologis.  Li, et al, dan Preston, et al, juga menunjukkan risiko solid tumor akibat paparan radiasi. Preston, et al, menilai bahwa kenaikan tingkat kanker tetap ada sepanjang hidup tanpa memandang usia saat terpapar. Daniels dan Schubauer-Berigan mengevaluasi beberapa penelitian primer menunjukkan bahwa paparan akut meningkatkan risiko kanker lebih besar dibandingkan paparan jangka panjang. Musa, et al, menunjukkan paparan dosis radiasi 100 mGy pada ibu hamil usia gestasi. 

e)      Dua minggu dapat menimbulkan kematian embrio; dosis radiasi 5000 mGy menimbulkan 100% kematian embrio atau fetus di bawah usia gestasi 18 minggu. Penelitian tersebut juga menunjukkan penurunan IQ pada fetus yang terkena radiasi, khususnya dosis tinggi. Dosis radiasi di bawah 50 mGy tidak terdeteksi menimbulkan efek kesehatan pada fetus. Pada dosis 50 - 100mGy dapat ditemukan efek signifikan pada usia gestasi 8-25 minggu. Pemeriksaan di atas 100 mGy tidak boleh pada ibu hamil meskipun fluoroskopi, barium enema, dan radioterapi.

 

20

B.     Tujuan

Pencegahan dan Perlindungan terhadap Radiasi prinsip keselamatan kerja yang baik, keputusan rasional, dapat menurunkan dosis paparan radiasi terhadap praktisi kesehatan dan pasien. Tiga prinsip penting proteksi radiasi dalam konsensus International Commission on Radiological Protection (ICPR):

1.      Prinsip justifikasi: paparan radiasi harus lebih banyak  manfaatnya dibandingkan akibatnya.

2.      Prinsip       optimalisasi proteksi kemungkinan timbulnya paparan, jumlah orang yang terkena, dan besarnya dosis individual harus sesuai prinsip ALARA (As Low As Reasonably Achievable), dan memperhatikan faktor sosial ekonomi.

3.      Prinsip limitasi dosis: jumlah dosis yang diterima oleh suatu individu selain dari paparan medis tidak boleh melebihi batas yang direkomendasikan ICRP.

 

C.    Prosedur Tindakan Perlindungan pada Pasien

Teknis pelaksanaan pemeriksaan turut berdampak pada perlindungan pasien: durasi fluoroskopi diusahakan sesingkat mungkin, volume radiasi dijaga serendah mungkin dengan kolimasi cermat, jarak pasien dengan detektor diusahakan dekat, dan protokol pemeriksaan (contoh dalam CT) dioptimalkan dosisnya oleh dokter yang berpengalaman dan oleh teknologi pemindaian yang lebih baik. Dosis minimal berarti dosis yang masih memberikan kinerja diagnostik pemeriksaan yang baik, disebut sebagai prinsip ALARA. Sistem detektor penghemat dosis seperti kombinasi layar-film atau detektor area digital yang optimal, serta filtrasi sinar yang adekuat, penting dimiliki.

 

21

Bagi pasien, kolimasi berkas sinar X penting untuk menjaga agar pajanan akibat radiasi hamburan tetap rendah. Pelindung timbal harus dikenakan bila

 mungkin untuk memperkecil pajanan terhadap gonad; pada trauma, pelindung timbal pada ovarium perempuan tidak mungkin dikenakan karena fraktur cincin panggul bisa saja terlewatkan. Pemindai CT jenis baru dapat memodifikasi konstan arus tabung dan pajanan menurut ketebalan pasien di tiap lokasi sambil terus melanjutkan pemeriksaan.

Perlindungan Dokter yang Memeriksa Sebagian besar faktor yang melindungi pasien dari radiasi juga akan menghilangkan pajanan radiasi bagi radiolog. Faktor-faktor ini meliputi pengalaman dokter pemeriksa yang memadai, durasi fluoroskopi yang singkat, kolimasi berkas sinar X yang ketat, peralatan sinar X dosis minimal, dan ketaatan terhadap indikasi pemeriksaan yang ketat. Tindakan perlindungan yang sangat efektif adalah dengan menjaga jarak sejauh mungkin dari sumber radiasi primer ataupun sekunder; pada tindakan fluoroskopi, dianjurkan agar semua staf berjarak setidaknya 36 inci dari sumber radiasi selama proses fluoroskopi berlangsung. Tindakan         perlindungan lain adalah menggunakan alat berlapis timbal, seperti dinding (yang kadang dapat dipindah-pindah), apron timbal, sarung tangan, pelindung tiroid, dan kacamata serta pelindung mata berkaca timbal.

 

 

 

 

 

 

22

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

A.    Kesimpulan

Pemilihan pemeriksaan penunjang radiasi dalam praktik medis perlu pertimbangan akurat. Penelitian harus berfokus terhadap teknologi penggunaan radiasi yang kecil dengan kualitas gambar yang baik. Dosis radiasi harus dalam dosis yang dianjurkan. Proteksi radiasi dilakukan terhadap pasien, staf, serta radiologis sendiri. Proteksi radiasi yang terbaik adalah menaati indikasi pemeriksaan dengan tepat, mengurangi jumlah pemeriksaan seminimal mungkin, dan sedapat mungkin memilih modalitas pencitraan yang tidak memerlukan radiasi.

 

B.     Saran

Dari makalah ini masih banyak kesalahan dan kekurangan, bagi para pembaca makalah ini kiranya sudi untuk memberikan saran agar bisa membangun dalam kebaikan.

 

 

 

 

 

 

 

 

23

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Sumber :

https://galihendradita.wordpress.com/2017/04/18/persyaratan-pengamanan-radiasi-dalam-rumah-sakit/

https://https://www.gurupendidikan.co.id/pengertian-radiasi/

http://dadang-saksono.blogspot.com/2010/07/macam-macam-radiasi.html

 

 

Lampiran (disertakan jumlah yang terkait)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

24

Komentar

Postingan populer dari blog ini

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR ( SOP ) OCCLUSIVE DRESSING

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR ( SOP ) OCCLUSIVE DRESSING Pengertian :      Teknik perawatan lukadengan cara menutup lukan dan memberi cairan, nutrisi dan antiseptik dengan drip selama 24 jam terus menerus Tujuan : 1.       Untuk mencegah infeksi 2.       Mempertahankan kelembaban 3.       Merangsan pertumbuhan jaringan baru 4.       Mengurangi nyeri 5.       Mengurangi terjadinya jaringan parut Indikasi : 1.       Ulkus varikosus 2.       Ulkus strasis 3.       Ulkus kronis Perosedur pelaksanaan A.     Tahap pra interkasi 1.       Persiapan alat a.        Kain kasa steril b.       Verban gulung c.        Larutan untuk drip yang terdiri dari : Nacl 0,9%, 325 cc, glukosa 40%, 125 cc dan betadin10%, 50cc d.       Trofodermin cream e.        Antibiotika tropical f.        Ganti verban set g.       Infus set h.       Pengalas i.         Sarung tangan j.         Gunting k.       Bengkok l.         Hipavix atau plester m.     Pelastik penutup ( tipis, putih dan transparan ) n.       Standar

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PIJAT OKSITOSIN

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PIJAT OKSITOSIN Pengertian       : Menjaga kebersihan dan menjaga kelancaran aliran ASI Tujujuan           : 1.       Menjaga atau memperlancar ASI 2.       Mencegah terjadinya infeksi Indikasi           : Ibu yang mempunyai bayi dan memberikan ASI secara eksklusif Prosedur           : A.     Persiapan alat 1.       Alat-alat a.        Kursi b.       Meja c.        Minyak kelapa d.       BH kusus untuk menyusui e.        Handuk 2.       Persiapan perawat a.        Menyiapkan alat dan mendekatkanya ke pasien b.       Membaca status pasien c.        Mencuci tangan 3.       Persiapan lingkungan a.        Menutup ordien atau pintu b.       Pastikan prifaci pasien terjaga B.      Bantu ibu secara pesikologis 1.       Bangkitkan rasa percaya diri 2.       Cobalah membantu mengurangi rasa sakit dan rasa takut 3.       Bantu pasien agar mempunyai pikiran dan perasaan baik tentang bayinya C.      Pelaksanaan 1.       Perawat mencuci tangan 2.       Menstimuli

STANADAR OPRASIONAL PROSEDUR ( SOP ) Menyusui

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) Menyusui A.    Pengertian Teknik Menyusui Yang Benar adalah cara memberikan ASI kepada bayi dengan perlekatan dan posisi ibu dan bayi dengan benar (Perinasia, 1994). B.    Tujuan C.    Persiapan ASI Persiapan memberikan ASI dilakukan bersamaan dengan kehamilan. Persiapan memperlancar pengeluaran ASI dilaksanakan dengan jalan : 1. Membersihkan puting susu dengan air atau minyak, sehingga epitel yang lepas tidak menumpuk. 2. Puting susu ditarik-tarik setiap mandi, sehingga menonjol untuk memudahkan isapan bayi. 3. Bila puting susu belum menonjol dapat memakai pompa susu atau dengan jalan operasi. D.    Prosedur Kerja 1.     Cuci tangan bersih dengan sabun. 2.     Atur posisi bayi. a.     Bayi diletakkan menghadap ke ibu dengan posisi sanggah seluruh tubuh bayi. b.     Lengan ibu pada belakang bahu bayi, tidak pada dasar kepala, leher tidak menengadah. c.     Hadapkan bayi ke dada ibu, sehingga hidung bayi berhadapan dengan puting susu, sedangkan