Langsung ke konten utama

Oh Mama Oh PapaKONON, WAJAH SAJA, BELUM KISAHKU, BISA BIKIN ORANG NANGIS

"Kami dari keluarga tidak mampu. Untuk makan saja harus cari rerumputan yang bisa di konsumsi, yang penting tidak memabukan.

Makan paling istimewa hanya pisang muda atau singkong dikukus lalu ditaburi parutan kelapa.

Dari 5 bersaudara yg lulus SD hanya 3 orang yang lulus SMP – Kuliah hanya saya.

Untuk sekolah harus naik perahu dan jauhnya 3 KM jalurnya sungai yang lebarnya 100-200 M. Dan lintasannya hutan belantara. Terkadang jika pagi banyak buaya di pinggiraan Sungai.

Putus sekolah SD, tidak sekolah 3 tahun. Sekolah lagi dan saya dikirim ke Lampung Selatan Kalianda. Di situ saya dititipkan di Pakde dari keluarga Bapak. Saya sering di  marahi. Maklum, kelas 2 SD. Tahu apa?

Pindah lagi, ikut anak dari Pakde, Saya dituduh mencuri uang. Padahal, saya tidak mencuri. Kalaupun sarapan dan makan saya hanya lauk seadanya sambal dan ikan asin. Sedangkan anak anaknya, makan lauknya telur, ikan dll.

Lalu saya pindah lagi, ke tempat anaknya pakde dari bapak yang lainya. Setiap hari Minggu saya harus menggembala sapi dan mencari Keong.

Akhirnya saya memutuskan ikut Pakde dari Ibu. Sama saja tak ada bedanya, harus ke Sawah, cari Keong, Angon (menggembala) sapi, kambing. Cuci baju sendiri nyeterika sendiri. Pokoknya, tidak dianggap ada,  meski saya ada di rumah dan tinggal sama mereka.

Saya pindah lagi. Kali ini ke Lampung Timur. Ikut Kakak Tiri. Bener kata pepatah Jawa “dulur iku ambune wangi nek adoh, nek cedak yo Mambu tai” dan itu bener sekali.

Di Lampung timur penderitaan bertambah, terhimpit pahit serta serasa sempit. Kakak Tiri saya sangat minus. Untuk kehidupan sehari-hari saja, susah.

Pagi hari bangun jam setengah lima. Saya nyuci baju keluarga kakak tiri, anak laki-lakinya dua, serta perempuan satu. Setiap hari 1 bak hitam. Jam setengah enam selesai langsung saya jemur. Sarapan, berangkat sekolah, sampai di sekolah saya sibuk. Alhamdulillah, saya salah satu murid berprestasi. Dari kelas 3 MI sampai lulus. MTS kelas satu saya di jadikan ketua OSIS sampai kelas 2.

Waktu kelas 6 saya disibukkan les tambahan persiapan UAS. Saya kecapekan dan tidur di bawah meja. Kakak tiri saya marah. Lalu saya diusir tidak boleh tinggal di rumahnya. Saya terdiam sambil nagis serta mengambil air wudhu Sholat Asar. Pas saat itu juga di rumah kakak tiri saya sedang ada hajatan 7 bulan alias piton piton dari anak pertama yang hamil. Tetangga serta saudara pada hadir karena persiapan acara tersebut.

Saya pergi sekitar 1 KM dari rumah kakak tiri. Saya memutuskan tidur serta sembunyi di bangunan sekolah yang tidak ditempati lagi. Di belakang bangunan serta samping semuanya pohon bambu rimbun. Gelap gulita. Saya mencari ilalang, lalu saya tumpuk di bawah pohon kelapa di bagian setengah sekolah tua tersebut.

Saya menangis serta, membayangkan. Wajah orang tua di atas langit yang penuh bintang. Saya tertidur. Lalau saya dijemput anak dari tetangga kakak tiri. Diajak pulang, sesampainya di rumah tetangga kakak tiri say di peluk lalu menangislah ibu dari teman saya (tetangga) tersebut.

Saya disuruh makan, serta mandi. Saya berpesan kalau nanti orang tuaku datang tolong jangan ceritakan. Saya tidak mau orangtua saya serta anak tiri dari ibu menjadi kurang harmonis.

Ternyata, tetangga kakak tiri ada yang bercerita kepada ortu saya. Seontak, ortu bilang ayo liburan pulang kerumah. Dan waktu itu juga saya urus surat pindah sekolah tanpa diketahui keluarga kakak tiri saya. Saya bilang berlibur dan tidak kembali lagi.

Pindah di sekolah MTs yang baru saya dikucilkan karena saya orang Jawa serta kalau bicara bahasa Indonesia medok. Saya di ledek sekitar 6 bulan. Satu sekolahan orang Jawa hanya 3 orang. Yang dua orang sudah tidak bisa bahasa Jawa lagi. Saya diledek sampai mau berkelahi dan saya hempaskan kursi di meja kelas hancur berkeping keping.

Semuanya orang Melayu Palembang serta orang Bugis. Mereka orang Bugis  terutama yg namanya Syamsul Bahri menghina “orang Jawa bisa apa?” kata orang Bugis. Kalau kata teman orang Melayu “wong jawe besak makan be” (orang Jawa hanya besar makan saja) namanya Sandra. Setiap hari mereka menghina dan mereka anti banget berteman dengan saya. Mereka akan pergi jika saya ada, persis seperti melihat anjing kurap.

Keadaan pecah belah tatkala saya dipanggil ke kantor, di ruangan kepala sekolah. Ditanya mengapa kamu  menghancurkan kursi. Saya jawab tanya saja sama Samsul Bahri. Dia terdiam tak berani menjawab.

Saya jawab, setiap hari saya dihina mereka. Orang Jawa bisa apa, orang Jawa hanya besar makan. Dan saya jawab dengan lantang dari pertama orang Jawa yang paling maju. Pulau Jawa, pulau paling maju. Presiden pertama hingga sekarang orang Jawa, Melayu atau Bugis. Hanya satu presiden kita orang Bugis (BJ Habibi). Kepala sekolah terdiam dan menyuruh Samsul Bahri untuk meminta maaf, kepada saya.

Selang beberapa bulan ujian semester pertama, pada saat kelas 2 MTs saya mendapat ranking 1 sampai lulus MTs. Dari sini mulai banyak yang ingin menjadi teman. 

Ketika mau kuliah saya cari perguruan tinggi di Yogyakarta. Hanya ada satu orang yang saya tuju dan belum pernah bertemu sebelumnya. Modal nekat saja. Ketika di dalam bus Ramayana, ada seorang Ibu dan Bapak bertanya, “mas mau kemana?” Saya jawab “mau ke Yogyakarta,” Ditanya lagi, Yogyakartanya mana mas?” Jawab saya, “saya tidak tahu, Hanya di suruh turun di Terminal Giwangan.”

Beliau berdua menangis sambil memeluk saya. "Kalau begitu ikut kerumah saya saja. Nanti biar anak saya membantu carikan universitas". Saya jawab “terimakasih, Insyaallah saya dapat universitasnya.”

Ketika kuliah pernah kehabisan uang, pulsa, beras dan makanan. Sarapan pagi hari Kamis, hari terakhir saya makan. Saya malu dan tidak mau merepotkan teman. Saya diam saja. Tidak bilang kalau habis semuanya.

Saya makan dan bertemu nasi lagi hari Senin jam 10 siang. Jadi, kurang lebih 3 hari tidak makan. Yang saya minum air sumur. Dapat 2 tarikan berhenti. Lemas serasa mau ikut masuk ke dalam sumur. Jalan sempoyongan. Jalan sudah tidak bisa berdiri saya merangkak.

Dan kala itu ujian terberat ketika mau berwudhu solat. Selesai solat lima waktu saya baca surat Yasin. Salah satu keutamaan surat Yasin. “Apabila di baca dalam keadaan lapar akan terasa kenyang”, Hanya itu yang saya baca.

Mursid, teman saya, menangis serta memeluk saya sambil melempar tas. Saya pun mengais. Lalu saya dipapah naik motor dan diajak ke warung makan. Sepanjang jalan saya menangis. Saya pun menangis. Rasa nasi yang saya makan menjadi asin, karena air mata tak henti. Mursid penyelamat dan pemberi semangat. Terimakasih Mursid jasamu akan selalu kuingat.

Pada saat itu juga ortu masuk rumah sakit di rawat 3 hari. Jadi saya bingung mau minta uang kiriman. Buat bayar kuliah serta makan. Sehingga saya kelaparan.

Ketika wisuda, ortu dan keluarga tidak ada yang datang. Yang datang Hanya Nur Hikmah serta Darsetia Ningsih, sahabat saya. Ketika sesi pemotretan sama keluarga, mereka berdualah keluarga saya. Dan saya pinjam beberapa orang tua dari para sahabat saya, untuk berfoto.

Lulus kuliah, saya kerja di pedalaman. Di gaji Rp. 300 ribu perbulan. Gaji bisa diambil pertiga bulan. Sengsara, sampai sampai saya mau di demo gara gara saya pasang tarif kalau ada yang berobat. Lah wong obat saya beli sendir, ada beberapa obat dari puskesmas, itupun tidak say jual.

Pasien berobat sering bayar dengan hasil bumi seperti sayur, semangka dll. Kalau ada orang yang memerlukan bantuan saya. Malam hari pun akan saya datangi. Berteman dengan lampu pijar di tangan kanan, di tangan kiri peralatan, tas punggung pelengkapan dan obat obatan di kepala senter. Kala malam, saya sering bersimpangan dengan ular serta babi hutan. Kadang saya yang lari duluan. Menderita jiwa raga serta harta.

Selama 2 tahun seperti itu. Pasien saya melahirkan sampai meninggal lantaran kerja saya rangkap sebagai, bidan dokter dan apoteker. Pasien persalinan meninggal karena perdarahan, jalur satu satunya sungai. Kendaraan perahu kelotok atau ketinting. Pas pada waktu itu air di sungai pasang surut. What can I do?

Saya pun pindah kerja cari batu loncatan. Pindah ke Puskesmas di daerah kabupaten. Disini saya bertemu dengan kakak Lia Husein. Saya ditawari untuk kerja di Arab Saudi. Tak tahu bagimana wujud Lia Husein. Hanya bertemu di Fb.

Hari Senin datang ke Jakarta sesuai dengan alamat. Untuk interview. Saya datang ke Jakarta naik bis. Datang di terminal Kampung Melayu langsung naik ojek. Jam 10 pagi interview, jam 2 siang balik ke Palembang.

Sesampainya di Palembang saya dimarahi kepala Puskesmas. Begini “Kamu ke Jakarta ada kepentingan apa? Kamu seharusnya berterimakasih, karena kamu saya terima di Puskesmas ini. Yang mau bekerja di Puskesmas ini banyak. Kalau saya keluarkan dari Puskemas ini, mau bekerja kemanapun selagi di Palembang, susah cari pekerjaaan dan kamu gak bakal diterima, karena saya banyak punya saudara menjadi kepala dinas di provinsi. Kamu ke Jakarta interviw mau ke Saudi, kamu bisa apa ke Saudi? Bahasa English tidak bisa, bahasa Arab apalagi. Mau jadi tukang sapu kamu di Saudi? Mulai besok tidak usah bekerja di Puskesmas ini”. Marahnya ibu ini dalam bahasa Palembang. Saya hanya diam.

Saya dipecat.

Tiga bulan 3 minggu tinggal di Jakarta tanpa kerja. Tidur di kantor PJTKI serta terkadang di kosan. Tanpa kerja. Untuk makan sehari hari saya minta kiriman dari ortu di Palembang.

Putus asa. Lama belum turun visa. Saya pulang ke Palembang. Dan alhamdulilah saya pinjam uang dari kak Lia Husein untuk pulang ke Palembang. Saya juga dibantu dengan seorang perawat dari Bandung. Saya lupa namanya dan perawakannya. Waktu interview di Jakarta hanya bertemu satu kali. Minta nomer saya.

Tiba tiba ada SMS masuk “fan saya minta Nomer Rekeningmu”. Saya kasih dan ternyata saya ditransfer. Kata beliau “Irfan pasti memerlukan biaya selama di Jakarta sebelum berangkat ke Saudi”. Saya tidak tahu harus bilang apa.

Pulang pergi Jakarta. Harus hutang ke koperasi untuk bayar agency, serta biaya selama sebelum berangkat ke Saudi.

Interview terakhir saya menggunakan bahasa Indonesia, user asli Saudi. Mungkin karena melihat wajah memelas saya makanya diterima.

Saya tiba di Saudi bulan Februari 14, 2015. Makanan sangatlah berbeda. Komunikasi sulit, karena tidak bisa English dan Arab. Selama 3 bulan persiapan Saudi Council. Sumpah! susahnya ya...ampun.  Karena itu tadi, my English is very bad. But I am not a bad boy!

Komunikasi dengan pasien mengunakan bahasa isyarat dan bahasa tubuh. Hahahah....... mirip seperti film Tom and Jerry.!

Dimarahi dan dibentak sama pimpinan, ah..... sudah biasa. Mana orang Mesir lagi atasan saya. Dokter saya Mesir, Yordan.  Jadi sering kena marah.

Kalau ingat, saya ketawa sendiri.

Alahmdulilah semua bisa saya lalui. Ujian Saudi Council saya, tidak saya sangka, saya dinyatakan lulus setelah 6 bulan proses. Kini saya punya lisensi (STR Saudi) tertempel di bingkai ruangan saya.

Kata teman-teman, saya paling beruntung saat ini. Alhamdulillah,  tidak pernah kekurangan. Umroh pertama dan Hajian, rasanya seperti mimpi di siang hari. Komunikasi bisa, yang tadinya English dan Arab tidak tahu jadi tahu. Saya punya orangtua angkat dan keluarga orang Saudi. Sahabat, teman banyak orang Saudi, bahkan dari beberapa selebriti penyanyi, pemain film hingga pejabat. Kerja nyaman gaji aman. Fikiran tenang, beribadah nyaman. Saya sering di ajak main, serta menyelami kepribadian serta karakter orang Saudi.

Saya bisa membiayai Bapak ketika sakit, sampai dengan meninggalnya. Tanpa ada hutang. Dua tahun bapak masuk serta harus kontrol ke rumah sakit. Alhamdulillah biaya lancar. Walau saya sendiri selama 2 tahun tidak bisa beli pakaian. Uang gaji kerja yang seharusnya saya terima perbulan, terpaksa saya ambil semua selama 6 bulan.

Hasil dari Saudi selama satu tahun ini, saya tabung dan sebagainya lagi, buat merintis usaha, bekal hari tua nanti, serta nyicil uang angsuran buat Hajian Ibu, di masa yang akan datang.

Mahabesar Allah yang telah mengubah nasib hamba-Nya, yang dulu sungguh sengsara. Semoga saya, tidak Kufur Nikmat. Saudi Arabia, the Heaven of My Life."

Riyadh, 15 Sept 2018
Ahmad Irfan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR SOP Pengukuran Tanda Vital ( Pernafasan, Nadi, Tekanan Darah Dan Suhu )

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR SOP Pengukuran Tanda Vital ( Pernafasan, Nadi, Tekanan Darah Dan Suhu ) Pengertian : 1.Pernafasan menghitung jumlah pernafasan ( inspirasi yang diikuti ekspresi selaman 1 menit. 2.Nadi menghitung frekuensi denyut nadi ( loncatan aliran darah yang dapt teraba yang terdapat di berbagai titik anggota tubuh melalui perabaan pada nadi, yang lazim diperiksa atau diraba pada radialis. 3.Tekanan darah melakukan pengukuran tekanan darah ( hasil dari curah jantung dan tekanan darah perifer )mdengan menggunakan spygnomanometer dan sttoskop. 4.Suhu mengukur suhu tubuh dengan mengguanakan termometer yang di pasangkan di mulut, aksila dan rektal. Tujuan : 1.Pernafasan a)Mengetahui kesdaan umum pasien b)Mengetahui jumlah dan sifat pernafasan dalam rentan 1 menit c)Mengikuti perkembangan penyakit d)Membantu menegakkan diagnosis
2.Nadi a)Mengetahui denyut nadi selama rentan waktu 1 menit b)Mengetahui keadaan umum pasien c)Mengetahui intgritassistem kardiovaskulr<

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR ( SOP ) Teknik Mengatasi Nyeri Atau Relaksasi Nafas Dalam

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR ( SOP ) Teknik Mengatasi Nyeri Atau Relaksasi Nafas Dalam Pengertian : Merupakan metode efektif untuk mengurangi rasa nyeri pada pasien yang mengalami nyeri kronis. Rileks sempurna yang dapat mengurangi ketegangan otot, rasa jenuh, kecemasan sehingga mencegah menghebatnya stimulasi nyeri Ada tiga hal yang utama dalam teknik relaksasi : 1.Posisikan pasien dengan tepat 2.Pikiran beristirahat 3.Lingkungan yang tenang Tujuan : Untuk menggurangi atau menghilangkan rasa nyeri Indikasi : Dilakukan untuk pasien yang mengalami nyeri kronis
Prosedur pelaksanaan : A.Tahap prainteraksi 1.Menbaca status pasien 2.Mencuci tangan 3.Meyiapkan alat
B.Tahap orientasi 1.Memberikan salam teraupetik 2.Validasi kondisi pasien 3.Menjaga perivacy pasien 4.Menjelaskan tujuan dan prosedur yang akan dilakukan kepada pasien dan keluarga