Langsung ke konten utama

VAKSIN TT


VAKSIN TT
A.   Deskripsi
Vaksin TT merupakan suspensi koloid homogeny berwarna putih susu dalam vial gelas, mengandung toksoid tetanus yang telah dimurnikan teradsorbsi kedalam alumunium fosfat, dan mengandung potensi sedikitnya 40 IU. Vaksin TT berupa suspense untuk injeksi.

B.   Komposisi
Setipa dosis ( 0,5 ml ) mengandung zat berkhasiat : toksoid tetanus yang dimurnikan sebanyak 10 Lf. zat tambahan : alumunium fosfat 1,5 mg, thimerosal 0,05 mg.

C.   Indikasi
Imunisasi aktif terhadap tetanus dan perlindungan terhadap neonates pada wanita usia subur.

D.   Cara kerja obat
Merangasang tubuh membentuk antibody terhadap titanus

E.    Posology
Imunisasi TTuntuk mencegah tetanus neonatorum terdiri dari dua dosis perimer @ 0,5 ml yang di berikan secara intramuskuler dengan interval 4-4 minggu, diikuti dosis ketiga 6 bulan berikutnya.

Tt dapat di berikan bersamaan dengan vaksin BCG, campak, rubella, mumps, polio ( OPV dan IPV ) Hepatitis B, Haemophilus Influenza Tyipe B, dan Yellow Fever, serta suplemen Vitamin A.

F.    Efeksamping
Bersifat ringan dan jarang, seperti sakit dan kemerahan pada lokasi suntikan yang bersifat sementara, serta kadang-kadang demam. Sehingga aman di berikan pada saat kehamilan.

G.   Kontraindikasi
1.     Reaksi bert terhadap dosis TT sebelumnya
2.     Hipersensitif tehadap salah satu komponen dari vaksin
3.     Imunisasi baiknya tidak di berikan pada saat keadaan demam atau infeksi akut, pada demam ringan ( minora a febrile illness ) seperti infeksi ringan pada pernafasan bagian atas, imunisasi dapat di berikan .
4.     Immune-defisiensi individu yang terjadi HIV symtomatic maupun asymptomatic, harus di vaksin TT menurut jadwal yang telah di tetapkan

H.   Interaksi Obat
Tidak di temukan adanya interaksi obat

I.       Peringatan perhatian
Vial vaksin harus dikocok untuk menghomogenkan suspensi. Vaksin harus di suntikan secara intramuskuler, setiap penyuntikan harus menggunakan syringe steril.
Sebelum vaksin di gunakan, informasi pada lebel atau gambar Vaccine Vial Monitor ( VVM ) agar di ikuti sesuai dengan perosedur dan petunjuk yang ada.

J.      Penyimpanan
Simpan pada suhu ± 20 C sampai dengan ± 80C. JANGAN DI BEKUKAN.

K.   Kemasan
Box @10 vial ( 5 ml/10 dosis ) ; Reg. No GKL 8502901443A 1
Box @10 vial ( 10 ml/20 dosis ) ; Reg. No GKL 8502901443A 1

Komentar

Postingan populer dari blog ini

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PIJAT OKSITOSIN

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PIJAT OKSITOSIN Pengertian       : Menjaga kebersihan dan menjaga kelancaran aliran ASI Tujujuan           : 1.       Menjaga atau memperlancar ASI 2.       Mencegah terjadinya infeksi Indikasi           : Ibu yang mempunyai bayi dan memberikan ASI secara eksklusif Prosedur           : A.     Persiapan alat 1.       Alat-alat a.        Kursi b.       Meja c.        Minyak kelapa d.       BH kusus untuk menyusui e.        Handuk 2.       Persiapan perawat a.        Menyiapkan alat dan mendekatkanya ke pasien b.       Membaca status pasien c.        Mencuci tangan 3.       Persiapan lingkungan a.        Menutup ordien atau pintu b.       Pastikan prifaci pasien terjaga B.      Bantu ibu secara pesikologis 1.       Bangkitkan rasa percaya diri 2.       Cobalah membantu mengurangi rasa sakit dan rasa takut 3.       Bantu pasien agar mempunyai pikiran dan perasaan baik tentang bayinya C.      Pelaksanaan 1.       Perawat mencuci tangan 2.       Menstimuli

STANADAR OPRASIONAL PROSEDUR ( SOP ) Menyusui

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) Menyusui A.    Pengertian Teknik Menyusui Yang Benar adalah cara memberikan ASI kepada bayi dengan perlekatan dan posisi ibu dan bayi dengan benar (Perinasia, 1994). B.    Tujuan C.    Persiapan ASI Persiapan memberikan ASI dilakukan bersamaan dengan kehamilan. Persiapan memperlancar pengeluaran ASI dilaksanakan dengan jalan : 1. Membersihkan puting susu dengan air atau minyak, sehingga epitel yang lepas tidak menumpuk. 2. Puting susu ditarik-tarik setiap mandi, sehingga menonjol untuk memudahkan isapan bayi. 3. Bila puting susu belum menonjol dapat memakai pompa susu atau dengan jalan operasi. D.    Prosedur Kerja 1.     Cuci tangan bersih dengan sabun. 2.     Atur posisi bayi. a.     Bayi diletakkan menghadap ke ibu dengan posisi sanggah seluruh tubuh bayi. b.     Lengan ibu pada belakang bahu bayi, tidak pada dasar kepala, leher tidak menengadah. c.     Hadapkan bayi ke dada ibu, sehingga hidung bayi berhadapan dengan puting susu, sedangkan

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR ( SOP ) OCCLUSIVE DRESSING

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR ( SOP ) OCCLUSIVE DRESSING Pengertian :      Teknik perawatan lukadengan cara menutup lukan dan memberi cairan, nutrisi dan antiseptik dengan drip selama 24 jam terus menerus Tujuan : 1.       Untuk mencegah infeksi 2.       Mempertahankan kelembaban 3.       Merangsan pertumbuhan jaringan baru 4.       Mengurangi nyeri 5.       Mengurangi terjadinya jaringan parut Indikasi : 1.       Ulkus varikosus 2.       Ulkus strasis 3.       Ulkus kronis Perosedur pelaksanaan A.     Tahap pra interkasi 1.       Persiapan alat a.        Kain kasa steril b.       Verban gulung c.        Larutan untuk drip yang terdiri dari : Nacl 0,9%, 325 cc, glukosa 40%, 125 cc dan betadin10%, 50cc d.       Trofodermin cream e.        Antibiotika tropical f.        Ganti verban set g.       Infus set h.       Pengalas i.         Sarung tangan j.         Gunting k.       Bengkok l.         Hipavix atau plester m.     Pelastik penutup ( tipis, putih dan transparan ) n.       Standar