Langsung ke konten utama

TRANSPLANTASI HATI


TRANSPLANTASI HATI
A.    Pengertian
Pengangkatan hati dan penggantiannya dengan organ donor yang sehat telah dilakukan dengan hal yang baik. Meskipun demikian, timbulnya kembali keganasan primer hati sudah transplantasi dilaporkan sebesar 80% hingga 85%. Karena itu, pasien kanker hati dianjurkan untuk menjalani kemoterapi sistemik atau terapi radiasi bersama dengan transplantasi hati.

Transplantasi hati meliputi pengangkatan total hati yang sakit dan menggantikanya dengan hati yang sehat. Pengangkatan hati yang sakit akan menyediakan tempat bagi hati yang baru dan memungkinkan rekonstruksi anatomis vaskuler hati serta saluran bilier mendekati keadaan normal.

Transplantasi hati digunakan untuk mengatasi penyakit hati stadium-terminal yang mengancam jiwa penderita setelah bentuk terapi yang lain tidak mampu menaganinya. Keberhasilan transplantasi hati bergantung pada kebersihan terapi imunosupresi. Preparatrin, kortikosteroid, azathioprin, OKT3 (antibodi monoklonal) dan FK506. Berbagai penelitian sedang dilakukan untuk menemukan kombinasi preparat imunosupresan yang paling efektif.

B.     Keterbatasan
Meskipun terapi imunosuperesi berhasil mengurangi penolakan tubuh pasien terhadap organ yang ditransplantasikan, namun transplantasi bukan suatu perosedur yang rutin. Transplantasi hati akan disertai dengan komlikasi yang menyertasi prosedur bedah yang lama, terpi imunosuperesif, infeksi dan berbagai kesulitan teknis yang dihadapi selama melakukan rekonstruksi pembuluh darah dan saluran empedu. Disamping itu, masalah sistemik yang sudah berjalan lama akibat penyakit primer pada hati penderitanya dapat memperulit perjalanan penyakit praoperatif maupun pascaoperatif. Pembedahan abdomen yang pernah dialami oleh pasien, termasuk perosedur untuk mengatasi komplikasi pada penyakit hati lanjutan (yaitu, pembuatan pirau untuk mengatasi hiprtensi portal dan varises esofagus), akan meningkatkan kerumitan prosedur transplantasi.

C.     Indikasi
Indikasi untuk transplantasi hati pada saat ini sudah tidak begitu terbatas lagi sebagai akibat dari penggunaan teknik veno-venous bypass, kemajuan dalam terapi imunosupresi dan perbaikan dalam teknik rekonstruksi salauran empedu.

Indikasi untuk transplantasi hati mencakup penyakit hati kronis ireversibel yang lanjut, gagal hati fulminan, penyakit hati metabolik dan kelainan malignitas hati di mana tindakan reseksi untuk menyembuhkan pasien memerlukan pengangkatan total hati. Contoh-contoh kelainan yang merupakan indikasi bagi transplantasi hati adalah penyakit hati hepatoseluler (misalnya, hepatitis virus, penyakit hati yang ditimbulkan oleh obat dan alkohol, serta penyakit Wilson) dan penyakit kolestasis (yaitu, sirosis bilier primer, kolagitis sklerosis serta antresia bilier).

Pasien yang dipertimbangkan untik menjalani transplantasi hati sering memiliki banyak masalah sistemik yang memepengaruhi perawatan pra dan pascaoperatif. Karena keberhasilan transplantasi lebih sulit tercapai apabila penderita mengalami perdarahan gastrointestinal yang hebat dan koma hepatik yang lanjut, maka tindakan transplantasi hati harus sudah dikerjakan sebelum pasien tersebut memasuki stadium ini.

Transpalantasi hati di negara maju kini dilakukan sebagai suatu bentuk terapi yang sudah mapan dan bukan lagi sebagai tindakan eksperimen untuk mengatasi kelainan hati. Sebagai konsekuensinya, semakin banyak rumah sakit di negara maju yang mampu melakukan transplantasi hati. Pasien-pasien yang memerlukan transplantasi hati sering dikirim dari rumah sakit yang letaknya jauh dari rumah sakit rujukan tersebut.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PIJAT OKSITOSIN

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PIJAT OKSITOSIN Pengertian       : Menjaga kebersihan dan menjaga kelancaran aliran ASI Tujujuan           : 1.       Menjaga atau memperlancar ASI 2.       Mencegah terjadinya infeksi Indikasi           : Ibu yang mempunyai bayi dan memberikan ASI secara eksklusif Prosedur           : A.     Persiapan alat 1.       Alat-alat a.        Kursi b.       Meja c.        Minyak kelapa d.       BH kusus untuk menyusui e.        Handuk 2.       Persiapan perawat a.        Menyiapkan alat dan mendekatkanya ke pasien b.       Membaca status pasien c.        Mencuci tangan 3.       Persiapan lingkungan a.        Menutup ordien atau pintu b.       Pastikan prifaci pasien terjaga B.      Bantu ibu secara pesikologis 1.       Bangkitkan rasa percaya diri 2.       Cobalah membantu mengurangi rasa sakit dan rasa takut 3.       Bantu pasien agar mempunyai pikiran dan perasaan baik tentang bayinya C.      Pelaksanaan 1.       Perawat mencuci tangan 2.       Menstimuli

STANADAR OPRASIONAL PROSEDUR ( SOP ) Menyusui

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) Menyusui A.    Pengertian Teknik Menyusui Yang Benar adalah cara memberikan ASI kepada bayi dengan perlekatan dan posisi ibu dan bayi dengan benar (Perinasia, 1994). B.    Tujuan C.    Persiapan ASI Persiapan memberikan ASI dilakukan bersamaan dengan kehamilan. Persiapan memperlancar pengeluaran ASI dilaksanakan dengan jalan : 1. Membersihkan puting susu dengan air atau minyak, sehingga epitel yang lepas tidak menumpuk. 2. Puting susu ditarik-tarik setiap mandi, sehingga menonjol untuk memudahkan isapan bayi. 3. Bila puting susu belum menonjol dapat memakai pompa susu atau dengan jalan operasi. D.    Prosedur Kerja 1.     Cuci tangan bersih dengan sabun. 2.     Atur posisi bayi. a.     Bayi diletakkan menghadap ke ibu dengan posisi sanggah seluruh tubuh bayi. b.     Lengan ibu pada belakang bahu bayi, tidak pada dasar kepala, leher tidak menengadah. c.     Hadapkan bayi ke dada ibu, sehingga hidung bayi berhadapan dengan puting susu, sedangkan

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR ( SOP ) OCCLUSIVE DRESSING

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR ( SOP ) OCCLUSIVE DRESSING Pengertian :      Teknik perawatan lukadengan cara menutup lukan dan memberi cairan, nutrisi dan antiseptik dengan drip selama 24 jam terus menerus Tujuan : 1.       Untuk mencegah infeksi 2.       Mempertahankan kelembaban 3.       Merangsan pertumbuhan jaringan baru 4.       Mengurangi nyeri 5.       Mengurangi terjadinya jaringan parut Indikasi : 1.       Ulkus varikosus 2.       Ulkus strasis 3.       Ulkus kronis Perosedur pelaksanaan A.     Tahap pra interkasi 1.       Persiapan alat a.        Kain kasa steril b.       Verban gulung c.        Larutan untuk drip yang terdiri dari : Nacl 0,9%, 325 cc, glukosa 40%, 125 cc dan betadin10%, 50cc d.       Trofodermin cream e.        Antibiotika tropical f.        Ganti verban set g.       Infus set h.       Pengalas i.         Sarung tangan j.         Gunting k.       Bengkok l.         Hipavix atau plester m.     Pelastik penutup ( tipis, putih dan transparan ) n.       Standar