Langsung ke konten utama

TINJAUAN KASUS


TINJAUAN KASUS
  1. Identitas Pasien
      Nama                         : Ny “D”                                   No.RM            : 023964
      Umur                          : 21 tahun                              Tgl Pengkjian : 5-5-11
      Jenis Kelamin          : Perempuan                         Sumber info  : Ny “D” dan
      Pendidikan               : SLTA                                                              buku status
      Pekerjaan                  : Tidak bekerja                                                pasien
      Suku / Bangsa         : Jawa / Indonesia                Metode           : Wawancara
      Alamat                        : Kadisoko Kalasan Sleman                                    Dokumentasi
      Penanggungjawab  : Ny. Dasiem                                                 
                  Nama             : Ny.Dasiem                         
                  Umur              : -
                  Pekerjaan      : Buruh
                  Alamat            : Kadisoko Kalasan Sleman
                  Hubungan    : Keluarga

  1. Alasan Masuk
      Depresi karena korban pemerkosaan, telanjang dijalanan.

  1. Factor Presdiposisi
    1. Pernah mengalami gangguan jiwa dimasa lalu ? Ya
-          Pernah opnam di RS Grhasia tahun 2006.
-          Putus obat.
-          Pasien yatim piatu ( ibu meninggal, bapak tidak diketahui keberadaannya ).
-          Pengalaman tidak menyenangkan ( hamil diluar pernikahan, melahirkan anak dan dititipkan di panti asuhan )
    1. Pengobatan sebelumnya ? tidak berhasil
    2. Tauma ? Aniaya seksual
    3. Anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa ? tidak ada
    4. Pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan ? Putus pacar
  1. Pemeriksaan Fisik
1. Tanda Vital     : TD :....           N:….   S:….   P:….
2. Ukur                 : TB : 150 cm BB : 50 kg
3. Keluhan fisik  : Tidak ada
4. Pengobatan fisik : Tidak ada

Masalah Keperawatan : -

  1. Psikososial
    1. Genogram ( tiga generasi )
    2. Konsep diri
a.    Gambaran diri, klien mengatakan tidak menyukai giginya.
b.    Identitas diri,
c.    Peran, sebagai individu klien ingin menjadi seperti Agnes Monica.
d.    Ideal diri, Ingin cepat sembuh, ingin menjadi wanita yang sholeh, ingin berjilbab.
e.    Harga diri, merasa tidak berguna dan merasa banyak orang yang membencinya dan mengejeknya.
    1. Hubungan sosial
a.    Di rumah, orang yang berarti dalam kehidupan klien adalah neneknya dan keponakannya.
b.    Di rumah sakit, orang yang berarti adalah Asih (teman 1 bangsalnya)
    1. Spiritual
a.    Nilai dan keyakinan, klien merasa pernah menganut aliran sesat yang memperbolehkan berzina, dan mencuri.
b.    Kegiatan ibadah, klien mengatakan beribadah dengan baik, sholat 5 waktu.
c.    Pandangan klien tentang kegiatan ibadah yang dilakukan, baik karena klien ingin bertaubat.

  1. Status Mental
    1. Penampilan fisik, baik.
    2. Pembicaraan, cepat, klien dapat merespon dengan cepat apa yang ditanyakan.
    3. Aktifitas Motorik, -
    4. Alam Perasaan, putus asa karena merasa dirinya kotor dan ada percobaan bunuh diri.
    5. Afek, sesuai
    6. Interaksi selama wawancara, dapat berinteraksi dengan baik.
    7. Persepsi, -
    8. Isi Pikir, dopersonalisme perasaan klien yang merasa asing dengan dirinya sendiri, orang / lingkungan.
    9. Proses Pikir, Sirkumtansia : pembicaraan yang berbelit – belit meskipun sampai juga pada tujuan pembicaraan, pengulangan pembicaraan / preservasi.
    10. Tingkat Kesadaran, bingung apa yang harus dilakukan dengan dirinya.
    11. Memori, Konfabulasi : pembicaraan tidak sesuai dengan kenyataan dengan memalsukan cerita yang tidak benar untuk menutupi gangguan daya ingatnya.
    12. Tingkat konsentrasi dan berhitung, mudah beralih karena perhatian klien mudah terganti dari satu objek ke objek yang lain.
    13. Kemampuan penilaian, -
    14. Daya tilik diri, menyalahkan hal – hal di luar dirinya atau lingkungan yang menyebabkan konsidi yang dialami klien saat ini.

  1.  Faktor Presipitasi
Telanjang dijalan, suka bicara sendiri, sulit diberi pengertian, sulit tidur.
No
Analisa Data
Masalah
1.




2.







3.
Do :   -
Ds : - Pasien mengatakan bahwa dirinya adalah pelacur.
          - Pasien mengatakan keinginannya untuk menjadi orang lain.
Do : - Pasien pernah berkelahi dengan pasien lain.
           - Pasien berbicara ketus pada pasien lain.
Ds :  - Pasien mengatakan marah karena dipukul pasien lain.
           - Pasien akan memukul pasien lain jika mengganggunya.
Do : - Terdapat riwayat percobaan bunuh diri.
Ds : - Pasien mengatakan lebih baik mati dari pada menikah dengan orang yang tidak dicintai.
Gangguan Proses Pikir (Dipersonalisasi)



Resiko Perilaku Kekerasan







Resiko Bunuh Diri

LAPORAN PENDAHULUAN

Gangguan Proses Pikir
Keadaan dimana individu mengalami kerusakan atau kelainan atau kekacauan dalam pengoprasian kognitif aktifitas.
Adapun proses pikir meliputi proses pertimbangan, pemahaman, ingatan serta penalaran. Proses berpikir yang normal mengandung arus ide, simbol dan asosiasi yang terarah kepada tujuan dan yang dibangkitkan oleh suatu masalah atau tugas dan yang menghantarkan kepada suatu penyelesaian yang berorientasi kepada kenyataan.

Karakteristik :
  1. Perbedaan kognitif.
  2. Devisit memori.
  3. Interpretasi lingkungan tidak akurat.
  4. Kelainan rentang perhatian.
  5. Waham ( ide – ide yang salah : kebesaran / curiga / kejar / somatik / agama / sisi pikir / siar pikir / kendali pikir ).
  6. Tidak mampu berkonsentrasi.
  7. Disorientasi ( waktu / tempat / orang ).
  8. Tidak  mampu membuat keputusan.
  9. Menurunnya kemampuan untuk mendapatkan ide.
  10. Bingung.
  11. Amat waspada.
Faktor yang berhubungan :
  1. Faktor herediter.
  2. Panik.
  3. Perubahan struktur dan fungsi jaringan otak ( pada klien GMO ).
  4. Mengingkari deprisi.
  5. Berduka yang belum selesai.
  6. Tingkat ansietas berat.
  7. Trauma masa kanak – kanak / penganiayaan.
  8. Ancaman terhadap konsep diri.
  9. Ancaman terhadap integritas diri.

Untuk menegakkan diagnosa perlu didapatkan data utama :
  1. Waham.
  2. Tidak mampu berkonsentrasi.
  3. Devisit memori.
  4. Disorientasi ( waktu / tempat / orang ).
  5. Kelainan rentang perhatian.
























Komentar

Postingan populer dari blog ini

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PIJAT OKSITOSIN

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PIJAT OKSITOSIN Pengertian       : Menjaga kebersihan dan menjaga kelancaran aliran ASI Tujujuan           : 1.       Menjaga atau memperlancar ASI 2.       Mencegah terjadinya infeksi Indikasi           : Ibu yang mempunyai bayi dan memberikan ASI secara eksklusif Prosedur           : A.     Persiapan alat 1.       Alat-alat a.        Kursi b.       Meja c.        Minyak kelapa d.       BH kusus untuk menyusui e.        Handuk 2.       Persiapan perawat a.        Menyiapkan alat dan mendekatkanya ke pasien b.       Membaca status pasien c.        Mencuci tangan 3.       Persiapan lingkungan a.        Menutup ordien atau pintu b.       Pastikan prifaci pasien terjaga B.      Bantu ibu secara pesikologis 1.       Bangkitkan rasa percaya diri 2.       Cobalah membantu mengurangi rasa sakit dan rasa takut 3.       Bantu pasien agar mempunyai pikiran dan perasaan baik tentang bayinya C.      Pelaksanaan 1.       Perawat mencuci tangan 2.       Menstimuli

STANADAR OPRASIONAL PROSEDUR ( SOP ) Menyusui

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) Menyusui A.    Pengertian Teknik Menyusui Yang Benar adalah cara memberikan ASI kepada bayi dengan perlekatan dan posisi ibu dan bayi dengan benar (Perinasia, 1994). B.    Tujuan C.    Persiapan ASI Persiapan memberikan ASI dilakukan bersamaan dengan kehamilan. Persiapan memperlancar pengeluaran ASI dilaksanakan dengan jalan : 1. Membersihkan puting susu dengan air atau minyak, sehingga epitel yang lepas tidak menumpuk. 2. Puting susu ditarik-tarik setiap mandi, sehingga menonjol untuk memudahkan isapan bayi. 3. Bila puting susu belum menonjol dapat memakai pompa susu atau dengan jalan operasi. D.    Prosedur Kerja 1.     Cuci tangan bersih dengan sabun. 2.     Atur posisi bayi. a.     Bayi diletakkan menghadap ke ibu dengan posisi sanggah seluruh tubuh bayi. b.     Lengan ibu pada belakang bahu bayi, tidak pada dasar kepala, leher tidak menengadah. c.     Hadapkan bayi ke dada ibu, sehingga hidung bayi berhadapan dengan puting susu, sedangkan

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR ( SOP ) OCCLUSIVE DRESSING

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR ( SOP ) OCCLUSIVE DRESSING Pengertian :      Teknik perawatan lukadengan cara menutup lukan dan memberi cairan, nutrisi dan antiseptik dengan drip selama 24 jam terus menerus Tujuan : 1.       Untuk mencegah infeksi 2.       Mempertahankan kelembaban 3.       Merangsan pertumbuhan jaringan baru 4.       Mengurangi nyeri 5.       Mengurangi terjadinya jaringan parut Indikasi : 1.       Ulkus varikosus 2.       Ulkus strasis 3.       Ulkus kronis Perosedur pelaksanaan A.     Tahap pra interkasi 1.       Persiapan alat a.        Kain kasa steril b.       Verban gulung c.        Larutan untuk drip yang terdiri dari : Nacl 0,9%, 325 cc, glukosa 40%, 125 cc dan betadin10%, 50cc d.       Trofodermin cream e.        Antibiotika tropical f.        Ganti verban set g.       Infus set h.       Pengalas i.         Sarung tangan j.         Gunting k.       Bengkok l.         Hipavix atau plester m.     Pelastik penutup ( tipis, putih dan transparan ) n.       Standar